Hal tersebut disampaikan Munir Mulkhan di hadapan ratusan sivitas akademika yang terdiri dari dosen, nahasiswa, peneliti, para birokrat, guru dan pemerhati pendidikan wilayah Yogyakarta dan dari Universitas Malaya, dalam Seminar Internasional bertajuk “Global Education Based On Local Wisdom” yang diselenggarakanFakultas Tarbiyah UIN Sunan Kalijaga bekerjasama dengan Universitas Malaya Malaysia, bertempat di Convention Hal Kampus UIN Sunan Kaljaga, Rabu, 11 Mai 2011. Forum ini juga dihadiri para mahasiswa utusan dari berbagai negara tetangga. Selain Munir Mulkhan, hadir pula menjadi pembicara antara lain : Rektor UIN Sunan Kalijaga, Prof. Dr. H. Musa Asy’arie, Drs. Habib Chirzin dari Institute of Global Education), Prof. Dr. Hj. Saeedah Siraj ( Universitas Malaya), Prof. Dr. Fatimah Hasyim (Universitas Malaya), Prof. Dr. Zawawi Ismail (Universitas Malaya), Dr. Zahara (Universitas Malaya), Prof. Dr. Abd. Rahman Assegaf, M. Ag. (Guru Besar Fakultas Tarbiyah UIN Sunan Kalijaga), Prof. Dr. Sutrisno, M. Ag., (Guru Besar Fakultas Tarbiyah UIN Sunan Kalijaga) dan M. Agus Nuryatno, MA., Ph.D., (Dosen Fakultas Tarbiyah UIN Sunan Kalijaga).
Lebih lanjut Munir Mulkhan memaparkan, pendidikan berwawasan global yang berpijak pada kearifan lokal akan berhasil bila berpijak pada tiga ranah secara imbang. Yang pertama, ranah atau dimensi pemahaman pengetahuan atau ilmu. Kedua, dimensi afeksi atau kesadaran. Ketiga, dimensi perilaku atau psikomotor. Menekankan satu dimensi, misalnya ranah pemahaman pengetahuan, hanya akan membuat orang pandai berkilah, pandai menyebut tata nilai dan tata laku, tetapi perilakunya membangkang tata nilai atau tata laku yang disebutnya dan tak punya rasa bersalah menghindari tanggungjawab. Itulah banyak orang yang ramai berhaji, ramai berpuasa, ramai solat, tetapi tidak perduli derita orang lain. Itu kegagalan pendidikan kita, kata Munir Mulkhan.
Pembiasaan melakukan ibadah kepada Tuhan dan Ibadah Sosial, tanpa memiliki pengetahuan yang cukup, juga akan membuat orang mudah tertipu. Yang paling fundamental dalam pendidikan adalah dimensi kesadaran. Karena dengan kesadaran akan pentingnya ilmu, tinggal menyediakan sarana dan prasarananya, orang akan membaca sendiri, mencari sendiri, memperkaya ilmu sendiri, tanpa harus setiap hari diingatkan. Dengan kesadaran, orang akan memilih yang benar diantara salah atau yang paling benar diantara yang benar dan yang kurang benar. Dengan kesadaran, orang akan komitmen untuk melakukan atau tidak melakukan sesuatu. Jadi bagaimanapun pandainya seorang pendidik, yang terpenting adalah kemampuan menggugah kesadaran siswa akan pentingnya mencari dan mengembangkan ilmu pengetahuan dan memelihara akhlak mulia. Sementara kearifan lokal banyak mengajarkan kepada kita tentang akhlak mulia, Tegas Munir Mulkhan.
Sementara itu Prof. Musa Asy’arie menyampaikan, Bahwa manusia punya kelebihan di banding malaikat. Karena memiliki kemampuan mencipta, mengubah realitas alam menjadi realitas budaya dan peradaban. Manusia adalah sebagai wakil Tuhan di bumi yang memiliki tugas penciptaan. Tugas kretaif membangun peradaban untuk kemakmuran bersama. Maka Tugas pendidikan, kata Musa Asy’arie adalah menggugah manusia untuk selalu berpikir dan berkreasi membangun peradaban. Dimbimbing oleh agama yang memberi pencerahan agar menjalankan tugas kreatif manusia secara benar. Melalui pendidikan, harusnya manusia tidak hanya mampu terus menerus siang malam bertashbih kepada Tuhan seperti malaikat, atau malah seperti setan, yang siang malam tugasnya hanya menggoda manusia untuk merusak dan mendzolimi.
Melalui pengembangan pendidikan dengan konsep yang integralistik antara ilmu dan Islam, harusnya bisa membawa perbaikan lingkungan alam dan lingkungan sosial menjadi lebih baik. Kehidupan menjadi lebih sejahtera dan nyaman. Dengan menggali kearifan lokal, pengembangan pendidikan Islam akan lebih mampu mengubah perilaku manusia dalam mengembangan ilmu dan teknologi untuk tidak merusak harmoni kehidupan lingkungan dan sosial.
Menurut Dekan Fakultas Tarbiyah, Dr. H. Hamruni, M.Si., melalui forum seminar internasional ini, Fakultas Tarbiyah bermaksud, ke depan akan mengembangan pendidikan global berbasis kearifan lokal dengan menggandeng Universiti Malaya Malaysia, dengan agenda awal, melakukan MoU yang pendandatanganannya dilakukan pada pembukaan seminar Internasional ini, oleh Dekan Fakulti Pendidikan, Universiti Malaya, Prof. Dr. Hj. Saeedah Siraj dengan Dekan Fakultas Tarbiyah dan Keguruan UIN Sunan Kalijaga, disaksikan Rektor UIN Sunan Kalijaga, Prof. Dr. H. Musa Asy’arie, dan Presiden Of Universiti of Malaya, Prof. Dato’ Dr. Ghouth Jasmon. Sejumlah agenda MoU sudah dirancang kedua belah pihak antara lain kerjasama dalam hal : peningkatan mutu pembelajaran, peningkatan SDM melalui pertukaran mahasiswa, dan dosen, penelitian pendidikan, penerbitan jurnal dan buku pembelajaran pendidikan berbasis kearifan lokal, serta pengabdian kepada masyarakat secara bersama.
Menurut Hamruni, kerjasama ini merupakan upaya melanjutkan hubungan kerjasama pengembangan pendidikan antara kedua Universitas yang pada era 70-an hingga 90-an pernah berlangsung. Dengan berlalunya waktu, saat ini Malaysia memiliki banyak perguruan tinggi yang SDM-nya bisa dinilai lebih berkualitas dari kita. Sementara penerapan berbagai kebijakan di Indonesia yang relatif tidak berpihak pada bidang pengembangan pendidikan, justru mengharuskan Indonesia banyak belajar dari Malaysia. Apalagi Indonesia dan Malaysia punya kesamaan karakter dalam ranah tradisi, budaya, religi dan geografi, sehingga pastilah punya keinginan untuk sama-sama mempertahankan kepribadian bangsa ditengah derasnya pengaruh buruk globalisasi. “Dengan MoU ini, kami (Fakultas Tarbiyah UIN Sunan Kalijaga dan Universiti Malaya) berharap bisa merumuskan kembali nilai-nilai kearifan lokal dari kedua negara, menyamakan persepsi dan interpretasi tentang problem-problem pendidikan dan menggali formula bersama tentang cara mengatasi berbagai persoalan pendidikan dan dampak buruk globalisasi dengan berpijak pada kearifan lokal kedua negara. Sehingga pengembangan pendidikan benar-benar mampu menguatkan karakter bangsa, kata Hamruni.
(Sumber : http://uin-suka.ac.id/page/berita/detail/400/kembangkan-pendidikan-berwawasan-global-berbasis-kearifan-lokal-uin-sunan-kalijaga-lakukan-mou-dengan-universitas-malaya)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar